Tampilkan postingan dengan label Warning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warning. Tampilkan semua postingan

Masalah kesehatan di Musim yang Tidak Menentu

Masalah kesehatan di Musim yang Tidak Menentu
Masalah kesehatan di Musim yang Tidak Menentu - Pada musim yang tidak menentu seperti sekarang ini, masalah kesehatan menjadi hal yang sangat penting. Karena sering sekali menjadikan tubuh kita rentan akan penyakit, seperti radang tenggorokan, batuk, flu dan masalah kesehatan kulit yang seperti, dehidrasi, rusaknya kulit kepala dan masih banyak lagi. Hal ini disebabkan cuaca yang sering berubah tiba-tiba dan mengakibatkan suhu tubuh tidak menentu dan terutama kelembaban kulit yang tidak menentu juga. Berikut ini Adalah masalah kesehatan yang bisa ditimbulkan oleh cuaca yang tidak menentu ini:

Dehidrasi – Hal ini sering terjadi pada kaum wanita, dan ini bisa sangat berbahaya jika Anda biarkan, karna bisa menimbulkan infeksi pada tubuh Anda. Namun ini bisa dicegah dengan cara mengkonsumsi banyak air putih. Hal ini tidak hanya baik untuk mencegah dehidrasi tapi bisa berkhasiat masalah kesehatan lainnya.

Flu dan Batuk – Hal ini sering terjadi disaat perubahan cuaca, pada umumnya ini terjadi akibat virus-virus yang beterbangan mencari tempat berpindah dan menempel di tubuh manusia yang daya tahan tubuhnya menurun. Hal ini pun bisa Anda cegah dengan istirahat yang cukup ddan banyak mengkonsumsi air putih. Istirahat dengan cukup bisa meningkatkan daya tubuh secara otomatis. Dan banyak mengkonsumsi air putih berfungsi agar racun atau virus yang terkandung dalam tubuh bisa cepat terbuang melalui urine Anda.

Demam – Demam ini biasanya terjadi jika tubuh kita sedang beradaptasi dengan cuaca sangat panas tiba-tiba turun hujan dan Anda berada jauh dari tempat berteduh. Hal ini disebabkan karena disaat panas, pori-pori kita dalam kondisi terbuka, jika terjadi perubahan yang drastis tentu saja tubuh kita akan terkejut. Dan demam akan sulit terelakan, disaat pori-pori terbuka terkena air hujan yang penuh dengan debu.

Kulit Kepala – Ini biasanya terjadi pada kebanyakan wanita yang memiliki rambut panjang. Disaat cuaca tidak menentu rambut bisa berminyak dan bisa juga kekeringan. Hal ini bisa membuat kelembaban kulit kepala terganggu. Gejala pertama biasanya rambut menjadi bau, dan jika dibiarkan, hal ini akan membuat kulit kepala Anda pun rusak.

Jagalah tubuh Anda sedini mungkin. Semoga Masalah kesehatan di Musim yang Tidak Menentu bisa Anda atasi setelah membaca ulasan diatas.

Kebiasaan Buruk yang merusak kulit

Memiliki kulit sehat dan bersinar adalah dambaan semua wanita. Namun beberapa kesalahan kecil kerap dilakukan sehingga membuat keindahan kulit tergerus.

Namun beberapa kesalahan kecil kerap dilakukan sehingga membuat keindahan kulit tergerus. Apa saja?

Mengerutkan bibir
Anda mungkin jarang mengerutkan bibir hingga membentuk kerutan. Namun tanpa Anda sadari, pada saat merokok atau minum melalui sedotan, kerutan itu justru lebih 'keras'.

Garis yang tidak diinginkan akan terbentuk secara perlahan. Hindari melakukan sejumlah gerakan bibir yang menyebabkan kerutan pada kulit, agar Anda terlihat awet muda.

Merokok
bahaya merokok, kebiasaan buruk, info kesehatan tentang kulit, cara merawat kulit

Banyak alasan orang merokok, dari menghilangkan rasa bosan atau asam di mulut, untuk iseng, menghabiskan waktu, dan lain-lain. Alasan untuk tidak berhenti merokok justru lebih banyak lagi. Padahal penyakit yang akan ditimbulkan oleh rokok sangatlah berbahaya.

Bahkan pemerintah sedang berencana memasang foto kanker di bungkus-bungkus rokok. Jika Anda, para wanita, masih belum bisa berhenti merokok, berhentilah karena rokok akan membuat Anda tampil lebih tua.

Ketika Anda merokok, Anda akan memutus kemampuan kulit untuk mendapatkan pasokan oksigen yang dibutuhkan.

Tanpa oksigen optimal, sel kulit tak bisa memperbaharui diri. Hal ini akan mendorong proses kulit berkerut lebih cepat, merusak kulit, dan menahan perbaikan kulit.

Selain kerutan yang akan jelas terlihat di sekitar bibir, kulit tubuh Anda pun akan makin terlihat kusam dan kehilangan elastisitasnya.

Tinggalkan pelembab
Pelembab sangat penting bagi kulit kering, ini bisa membantu mengurangi garis halus di wajah Anda. Jangan lupa memakai Gunakan pelembab yang mengandung Vitamin A (retinols), C dan kinetin.

Perhatikan juga kelembaban dan kesehatan kulit bagian leher dan dada Anda, karena bagian ini yang pertama kali menunjukkan tanda-tanda penuaan (kelenjar minyak yang dimiliki lebih sedikit dari bagian tubuh yang lain) pada kulit seperti bercak hitam, dan keriput.

Efek matahari
Tanpa kita sadari, paparan sinar matahari sehari-hari akan menggerogoti kulit kita. Disarankan dengan sangat agar Anda menggunakan tabir surya, setidaknya dengan SPF 15 untuk kegiatan sehari-hari.

Jika Anda berencana untuk berada di bawah matahari dalam waktu yang lama dan terik, disarankan untuk menggunakan SPF 30.

Jangan mengira pakaian Anda bisa melindungi kulit Anda dari efek sinar matahari, karena baju setara dengan SPF 4 saja. Melindungi kulit dari efek matahari sehari-hari akan menghambat penuaan dini pada kulit (flek coklat pada kulit dan garis-garis halus), juga kanker kulit.

Jangan lupa melindungi mata Anda dari sinar UVA dan UVB, karena sinar tersebut bisa menimbulkan katarak, kebutaan, dan melanoma.

Menggosok kulit wajah terlalu keras
Kulit wajah merupakan kulit sensitif dan memerlukan perawatan ekstra. Saat anda melakukan kontak langsung dengan wajah, seperti mencuci muka, memakai pelembab dan make-up lakukan itu dengan lembut dan perlahan. Agar kulit Anda tidak menjadi stres dan luka.

Jarang bersihkan kulit
Pastikan setiap malam Anda membersihkan wajah, selain mencegah pori-pori tersumbat tapi juga membersihkan semua polusi dan kotoran yang menempel pada wajah Anda. Sehingga jerawat pun tak mau muncul di kulit bersih Anda.

Mandi air panas
Setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan, mandi air panas bisa menjadi pilihan yang baik. Namun, Anda harus tahu, air panas bisa merusak pori-pori kulit Anda.

Air panas cenderung mengelupas kulit dan membuat kulit tak terkena minyak alami yang bisa merusak lapisan pelindung kulit.

Hasilnya, kulit Anda justru kering dan gatal. Untuk menghindarinya, pilihlah mandi dengan air dingin dan dalam waktu tidak terlalu lama.

Waspadai bakteri E Coli pada makanan bayi

Jika Anda adalah seorang ibu/orang tua yang gemar meracik sendiri makanan untuk si kecil, maka berhati-hatilah terutama faktor kebersihannya, amati pula faktor keamanannya terutama ancaman dari bahaya bakteri yang menyusup di dalam makanan.

Dewasa ini, tak sedikit Moms masih memersiapkan sendiri Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk bayi usia 6-12 bulan. Sayangnya, masih jarang dari mereka mengamati faktor keamanannya. Padahal, penyiapan MP-ASI lokal yang tidak higienis dapat menyebabkan terjadinya kontaminasi dan menimbulkan penyakit salah satunya diare.

Menyoal diare, perlu diketahui bahwa 90 persen penderita diare ialah balita. Kuat dugaan jika makanan menjadi penyebab dari 70 persen kejadian diare tersebut, khususnya di negara berkembang.

gambarbayi imut dan lucu, foto balita makan, bahaya bakteri e coli, makanan sehat untuk si kecilBerkenaan dengan hal itu, promovendus Aria Kusuma melakukan penelitian lebih lanjut terhadap 599 bayi berusia 6-12 bulan dari 139 rumah tangga di Kabupaten Solok. Hasilnya, 72.46 persen MP-ASI lokal terkontaminasi bakteri Escherichia coli (E coli).

"Faktor yang paling berhubungan terhadap E coli pada penyajian MP-ASI lokal ialah keberadaan hewan yang berkeliaran di dalam rumah, kontaminasi tangan penjamah makanan, dan mengeringkan tangan dengan lap yang tidak terjamin kebersihannya," kata Aria yang ditemui pada “Disertasi Gelar Doktor” di Ruang Promosi Doktor, Gedung G Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, Rabu (4/1/2012).

Upaya yang perlu dilakukan ialah mencegah berkeliarannya hewan di dalam rumah dapat dilakukan dengan cara sederhana, di antaranya mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir dan mencuci lap tangan setiap hari untuk menjamin kebersihannya sebelum penyiapan MP-ASI lokal kepada bayi berusia 6-12 bulan. sumber

Bahaya mencampur obat herbal alami dengan obat buatan dari bahan kimia



Penggunaan obat kimia modern dan obat herbal, termasuk jamu, secara bersamaan untuk mengobati penyakit tertentu harus dilakukan secara hati-hati. Penggabungan secara serampangan bisa memperburuk kesehatan.

bahaya mencapur obat herbal dengan obat kimia, peringatan untuk pengguna bahan kimia
”Butuh pengetahuan dan penelitian lebih banyak untuk menggabungkan penggunaan jamu dan obat kimia secara bersamaan,” kata Ketua Program Studi Pengobatan Tradisional, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Arijanto Jonosewojo, dalam simposium ”Pentingnya Kualitas Ekstrak Obat Herbal sebagai Produk Perawatan Kesehatan dan Agen Terapetik” di Jakarta, Kamis (9/2).

Uji klinik yang dilakukan di Rumah Sakit Umum dr Soetomo, Surabaya, menunjukkan, penggunaan obat antikolesterol simvastatin ataupun campuran daun jambu, temu lawak, dan jati belanda (obat tradisional) memberikan hasil yang baik jika digunakan secara sendiri-sendiri. Tetapi, jika digabung, hasilnya justru buruk.

Hal yang sama terjadi pada penggunaan metformin dan teh hitam untuk mengobati diabetes. Jika kedua obat itu digunakan sendiri-sendiri, bisa menurunkan kadar gula darah rata-rata selama 1-3 bulan (HbA1C) hampir sama. Namun, jika digabung, penurunan HbA1C justru sangat kecil.

”Jika ingin menggabungkan, obat modern sebaiknya diminum lebih dulu. Setelah 1-2 jam, baru minum obat herbal,” katanya.

Zat aktif dalam obat kimia umumnya lebih cepat diserap tubuh. Adapun obat herbal, selain lebih lambat diserap tubuh, terkadang bersifat mengikat zat dari obat kimia. Akibatnya, efek obat kimia jadi tidak maksimal.

Arijanto, yang juga Kepala Poliklinik Obat Tradisional Indonesia RSU dr Soetomo, mengingatkan, ginseng tidak boleh digabung dengan obat digoxin (obat jantung) karena akan memperburuk kondisi jantung.

Selain itu, bawang putih yang juga merupakan obat herbal antikoagulan tidak boleh digabung dengan obat kimia golongan asetasol atau clopidopril. Hal ini akan menimbulkan perdarahan.

”Masyarakat masih menganggap obat herbal lebih baik dibandingkan obat kimia. Padahal, tidak ada obat herbal yang 100 persen aman dan tidak semua obat kimia buruk,” katanya.

Belum berkembang

Meski bangsa Indonesia mengenal dan merasakan manfaat tanaman obat sejak lama, hingga kini industri obat tradisional Indonesia belum berkembang.

Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Hary Wahyu Triestanto Wibowo mengatakan, saat ini baru terdaftar 6 fitofarmaka dan 31 obat herbal terstandar. Adapun jamu jumlahnya mencapai ribuan.

Jamu adalah tingkat terendah dalam pengelompokan obat tradisional Indonesia. Disusul obat herbal terstandar dan fitofarmaka sebagai tingkat tertinggi.

Untuk meningkatkan status jamu menjadi obat herbal terstandar, harus ada uji nonklinik. Untuk menjadi fitofarmaka, harus dilakukan uji klinik dan uji nonklinik. Proses uji itu butuh biaya investasi besar.

Karena itu, banyak produsen jamu enggan meningkatkan status produknya karena dengan status jamu saja sudah laku. ”Produsen hanya akan meningkatkan status produknya menjadi obat herbal terstandar atau fitofarmaka untuk meyakinkan keamanan produknya pada konsumen dan kepentingan ekspor,” ujarnya.

Rudy Susilo dari Evoria GmbH, Jerman, mengatakan, pengolahan obat herbal di Indonesia banyak yang tak memenuhi standar. Orientasi bisnis produsen lebih besar sehingga kurang memperhatikan aspek keamanan obat bagi konsumen.

Untuk mendapatkan obat herbal yang baik, seluruh proses produksi, mulai dari penanaman tanaman obat, perawatan, panen, pengeringan, ekstraksi, penyimpanan, pembuatan obat, hingga distribusinya, tidak bisa dilakukan asal-asalan.

Bahan baku obat herbal harus bebas dari logam berat, jamur, ataupun pestisida. Proses produksi harus dilakukan secara modern, sama seperti yang dilakukan sebagian obat herbal China.

Menurut Rudy, obat herbal tidak perlu diragukan manfaatnya. Yang harus dijaga adalah agar obat herbal aman dikonsumsi.

”Obat herbal sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu dan menunjukkan khasiatnya,” katanya.

Obat herbal, demikian Arijanto, sebaiknya digunakan untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, pemulihan, dan mengurangi penderitaan pasien.

Untuk penyembuhan penyakit, masih disarankan menggunakan obat kimia. Dokter dapat memberikan obat herbal untuk melengkapi obat kimia dengan syarat ada permintaan tertulis dari pasien.

sumber